YOGYAKARTA- Geolog Universitas Gadjah Mada (UGM),
Nugroho Imam Setiawan, berhasil menyelesaikan ekspedisi penelitian di
Antartika. Dia membawa 141 buah sampel batuan metamorf ke Indonesia
untuk diteliti.
Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik, Nugroho,
merupakan peneliti pertama UGM dan wakil ASEAN yang berkesempatan
mengikuti penelitian masa depan planet Bumi di Antartika yang
diselenggarakan Japan Antartic Research Expedition (JARE). "Saya masuk
dalam tim geologi yang beranggotakan delapan orang. Sekira 30 hari kami
melakukan survei geologi di Antartika," kata Nugroho kepada wartawan di
Ruang Sidang Pimpinan UGM Kamis (30/3/2017).
Dia mengatakan, program penelitian di Antartika ini dilaksanakan JARE
di bawah bendera organisasi Asian Forum for Polar Seciences (AFoPS).
Secara rutin, JARE melakukan ekspedisi ke Antartika sekali dalam setahun
selama 60 tahun berturut-turut.
Dijelaskannya, tim ekspedisi berangkat ke Antartika pada 27
November 2016 dari Australia. Tim berangkat menggunakan kapal ekspedisi
‘Shirase’ yang memiliki kemampuan untuk memecah es dengan ketebalan 1,5
meter.
Saat berada di Antartika, mereka memasuki musim panas dan matahari
bersinar selama dua jam. Suhu udara di Antartika berkisar -5 derajat di
malam hari dan -2 derajat di siang hari, sementara suhu maksimum 2
derajat. "Tim Geologi Jepang ada 22 lokasi survei Geologi. Tim
internasional termasuk saya ada delapan lokasi survei geologi," ujarnya.
Selama di sana, lanjut dia, penelitian dilakukan 30 hari. Sebab,
cuaca sering berubah. "Sisanya hanya menunggu cuaca membaik," imbuh dia.
Dijelaskannya, setiap harinya tim geologi menjalankan rutinitas
mengumpulkan sampel batuan metamorf di setiap lokasi penelitian. Ada
delapan titik survei geologi yang mereka jelajahi, yaitu Akebono,
Akarui, Tenmodai, Skallevikhalsen, Rundvageshtta, Langdove, West Ogul,
dan Mt Riiser Larsen. Menurut dia, Antartika ibarat pusat penelitan,
karena posisinya di Kutub Selatan sejak 500 juta tahun lalu tanpa
mengalami perubahan yang signifikan secara geografis dan tektonik.
“Kami berusaha menyingkap batuan metamorf, batuan tertua di Bumi berusia 3,8 miliar tahun yang ada di Antartika,” ujarnya.
Untuk penelitian, dirinya mengambil 141 buah sampel batuan
metamorf untuk penelitian. Untuk mengambil sampel batuan, peneliti harus
memiliki izin berupa paspor khusus.
Harapannya, dari penelitian tersebut dapat dipelajari sejarah
pembentukan dan perkembangan Bumi. "Total 3 ton sampel, untuk saya 141
buah, total berat 200 kilogram akan dikirim ke Indonesia dan akan tiba
bulan Mei 2017. Batuan itu nantinya akan saya teliti, kolaborasi dengan
Jepang," bebernya.
sumber:https://news.okezone.com/read/2017/03/30/65/1654451/cerita-dosen-ugm-saat-ekspedisi-di-antartika

Tidak ada komentar:
Write Comments