Senin, 18 September 2017

ini Cerita Dosen UGM Saat Ekspedisi di Antartika

YOGYAKARTA- Geolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Nugroho Imam Setiawan, berhasil menyelesaikan ekspedisi penelitian di Antartika. Dia membawa 141 buah sampel batuan metamorf ke Indonesia untuk diteliti.
Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik, Nugroho, merupakan peneliti pertama UGM dan wakil ASEAN yang berkesempatan mengikuti penelitian masa depan planet Bumi di Antartika yang diselenggarakan Japan Antartic Research Expedition (JARE). "Saya masuk dalam tim geologi yang beranggotakan delapan orang. Sekira 30 hari kami melakukan survei geologi di Antartika," kata Nugroho kepada wartawan di Ruang Sidang Pimpinan UGM Kamis (30/3/2017).

Dia mengatakan, program penelitian di Antartika ini dilaksanakan JARE di bawah bendera organisasi Asian Forum for Polar Seciences (AFoPS). Secara rutin, JARE melakukan ekspedisi ke Antartika sekali dalam setahun selama 60 tahun berturut-turut.
Dijelaskannya, tim ekspedisi berangkat ke Antartika pada 27 November 2016 dari Australia. Tim berangkat menggunakan kapal ekspedisi ‘Shirase’ yang memiliki kemampuan untuk memecah es dengan ketebalan 1,5 meter.
Saat berada di Antartika, mereka memasuki musim panas dan matahari bersinar selama dua jam. Suhu udara di Antartika berkisar -5 derajat di malam hari dan -2 derajat di siang hari, sementara suhu maksimum 2 derajat. "Tim Geologi Jepang ada 22 lokasi survei Geologi. Tim internasional termasuk saya ada delapan lokasi survei geologi," ujarnya.
Selama di sana, lanjut dia, penelitian dilakukan 30 hari. Sebab, cuaca sering berubah. "Sisanya hanya menunggu cuaca membaik," imbuh dia.
Dijelaskannya, setiap harinya tim geologi menjalankan rutinitas mengumpulkan sampel batuan metamorf di setiap lokasi penelitian. Ada delapan titik survei geologi yang mereka jelajahi, yaitu Akebono, Akarui, Tenmodai, Skallevikhalsen, Rundvageshtta, Langdove, West Ogul, dan Mt Riiser Larsen. Menurut dia, Antartika ibarat pusat penelitan, karena posisinya di Kutub Selatan sejak 500 juta tahun lalu tanpa mengalami perubahan yang signifikan secara geografis dan tektonik.
“Kami berusaha menyingkap batuan metamorf, batuan tertua di Bumi berusia 3,8 miliar tahun yang ada di Antartika,” ujarnya.
Untuk penelitian, dirinya mengambil 141 buah sampel batuan metamorf untuk penelitian. Untuk mengambil sampel batuan, peneliti harus memiliki izin berupa paspor khusus.
Harapannya, dari penelitian tersebut dapat dipelajari sejarah pembentukan dan perkembangan Bumi. "Total 3 ton sampel, untuk saya 141 buah, total berat 200 kilogram akan dikirim ke Indonesia dan akan tiba bulan Mei 2017. Batuan itu nantinya akan saya teliti, kolaborasi dengan Jepang," bebernya.
 
sumber:https://news.okezone.com/read/2017/03/30/65/1654451/cerita-dosen-ugm-saat-ekspedisi-di-antartika

Tidak ada komentar:
Write Comments

© 2014 KOBEPA-ROCK013. Designed by Enago Kobepa
Powered by Anak Cenderawasih.